Jumat, April 24, 2026
No menu items!

Lebih Dari 150 Ekor Paus Terdampar di Pantai Tasmania

Australia, Satu Indonesia – Departemen Sumber Daya Alam dan Lingkungan Tasmania menyatakan terdapat 157 Paus Pembunuh Palsu atau False Killer Whale yang terdampar di pantai terpencil dekat Sungai Arthur di ujung barat laut Tasmania, Australia, Rabu (19/2/2025).

Dari kesemuanya, 90 ekor paus dinyatakan masih hidup, sementara selebihnya diketahui telah mati tak lama setelah mereka terdampar.

Di Tasmania memang lazim dengan peristiwa terdamparnya spesies ikan paus secara massal dalam beberapa tahun terakhir (dan yang terburuk pernah terjadi pada tahun 2020). Tetapi untuk kasus terdamparnya Paus Pembunuh Palsu secara massal, belum pernah terjadi di sana selama lebih dari 50 tahun.

Paus Pembunuh Palsu merupakan salah satu spesies lumba-lumba terbesar di dunia, seperti halnya Paus Orca. Mereka dapat tumbuh hingga 6 m (19 kaki) dan berat 1,5 ton.

Penduduk setempat, Jocelyn Flint, adalah wanita yang pertama kali melihat keberadaan False Killer Whale yang terdampar tersebut. Pada hari Rabu (19/2/2025), pagi-pagi sekali dia berangkat ke pantai untuk memastikan keberadaan paus-paus itu. Pada tengah malam sebelumnya putranya menelepon dan mengabarinya. Putranya sedang memancing dan mengatakan bahwa dari kejauhan nampak seperti ada banyak ikan yang terdampar di tepi pantai.

Pihak berwenang Australia mengonfirmasi bahwa sekitar 90 paus memang masih hidup, dan mereka berjuang untuk menyelamatkannya. Namun setelah mencoba  berbagai cara yang kompleks mereka mendapati bahwa upaya penyelamatan mustahil untuk dilakukan.

Dengan berat hati pihak berwenang Australia mengatakan akan melakukan euthanasia (suntik mati) terhadap sekitar 90 False Killer Whale yang sekarat tersebut.

Dikatakan ratusan hewan malang itu telah terdampar selama 24 hingga 48 jam, dan hewan-hewan yang masih hidup telah sangat menderita karena harus berada di daratan dalam waktu selama itu.

Ahli Biologi Kelautan Dr. Kris Carlyon mengatakan bahwa lokasi terdamparnya paus-paus tersebut berada sekitar 300 km (186 mil) dari kota Launceston. Disana merupakan pantai di wilayah terpencil yang sangat sulit untuk diakses. Hal itu sangat menyulitkan untuk mengangkut peralatan penyelamatan.

Dalam keterangannya, Rabu (19/2/2025) Kris Carlyon mengatakan, “Ini mungkin lokasi tersulit yang pernah saya lihat dalam 16 tahun menjalankan peran ini di Tasmania.”

Sementara itu, Pengendali Insiden Dinas Taman dan Satwa Liar (PWS) Shelley Graham menyampaikan, “Kami tidak berhasil melakukan itu (mengembalikan paus-paus ke laut), karena kondisi laut menghalangi hewan-hewan untuk keluar.”

Ia menjelaskan bahwa lokasi pantai, kondisi laut dan bahkan cuaca sangat tidak mendukung upaya pengembalian hewan-hewan itu ke laut, meskipun ia dan timnya serta berbagai pihak terkait sudah melakukan berbagai upaya.

Mereka terus dan terus mencoba namun diperkirakan tidak akan membuahkan hasil, bahkan jika terus dilakukan selama dua hari ke depan. Ikan-ikan malang yang masih hidup tersebut kemungkinan hanya akan terus tergeletak tak berdaya hingga akhirnya mati.

”Kami sudah mencoba berbagai metode untuk meletakkan ikan-ikan di atas trailer, mengapungkan ke arah air laut, namun hewan-hewan malang itu terus berputar dan kembali ke pantai,” lanjut Shelley Graham penuh sesal.

Ahli Biologi Kelautan sekaligus Wakil Pengendali Insiden Dinas Taman dan Satwa Liar, Dr. Kris Carlyon mengatakan bahwa hewan-hewan itu akan di-euthanasia dengan senjata api.

“Semakin lama hewan-hewan ini terdampar, semakin lama pula mereka menderita. Semua pilihan alternatif tidak berhasil, euthanasia selalu menjadi pilihan terakhir,” kata Dr. Carlyon.

Dr. Carlyon juga menjelaskan, bahwa ada prosedur yang sangat ketat dalam setiap upaya euthanasia. Dan hal tersebut sudah diputuskan secara matang dengan berbagai pihak. Para dokter hewan dan ahli satwa liar sudah melakukan penilaian dan terpaksa mengambil keputusan berat itu pada Paus-paus Pembunuh Palsu tersebut.

“Ini situasi yang sulit, tetapi kami sadar ini adalah cara terbaik bagi hewan demi alasan kesejahteraan hewan, maka kami pasti akan melakukan pekerjaan itu dan melakukannya secepat dan semanusiawi mungkin,” ucapnya.

Tugas berat Euthanasia itu diperkirakan akan berupa tindakan ”tembak mati” dan akan dimulai pada hari Rabu hingga hari Kamis.

Pihak berwenang juga masih berupaya mencari cara untuk membuang bangkai-bangkai hewan yang berjumlah sangat banyak tersebut. Diketahui saat ini lokasi terdamparnya 157 False Killer Whale tersebut tengah ditutup untuk masyarakat.

TERPOPULER

TERKINI

BI Kaltim Luncurkan Program Kebanksentralan, Gandeng 6 Perguruan Tinggi

Samarinda, Satu Indonesia – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Kalimantan Timur resmi meluncurkan Kick Off Program Pendidikan Kebanksentralan pada Kamis (23/04/2026).Inisiatif ini menjadi wujud...