Minggu, Juni 14, 2026
No menu items!

Jadi Biang Keladi Banjir di Samarinda, Pusat hingga Pemkot Putar Otak Benahi Sungai Karang Mumus

Samarinda, Satu Indonesia – Sungai Karang Mumus (SKM) merupakan anak Sungai Mahakam yang memiliki panjang aliran 34,7 kilometer di wilayah Kota Samarinda.

Keberadaannya yang membelah Kota Samarinda telah menjadi urat nadi bagi Kota Tepian. Sejak dahulu kala SKM menjadi satu jalur transportasi air bagi warga yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Karang Mumus. Selain itu SKM juga menjadi sumber aktivitas seperti mencuci, mandi, industri dan aktivitas lainnya.

Disisi lain, sungai yang melintang di Ibu Kota Kaltim ini juga disebut-sebut menjadi salah satu biang keladi banjir yang kerap terjadi.

Daya tampung aliran SKM disebut-sebut sebagai salah satu solusi untuk menanggulangi banjir.

Namun untuk mewujudkannya tidak serta merta berjalan secara instan. Perlu keterlibatan banyak pihak untuk saling berkoordinasi dan bekerja sama. Untuk mengokohkan DAS SKM tersebut, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, serta Pemerintah Kota sudah bahu-membahu dan membagi tugas serta peran masing-masing.

Pemerintah Pusat lewat Balai Wilayah Sungai akan menurap kedua sisi bibir sungai. Sementara Pemkot Samarinda bertugas memastikan tak lagi ada permukiman di sempadan sungai, hal ini untuk memastikan sempadan menjadi jalur hijau sepenuhnya. Sementara itu, Pemerintah Provinsi bakal ambil bagian mengurus normalisasi.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (PUPR-Pera) Kaltim, A.M Fitra Firnanda belum lama ini memastikan anggaran provinsi di 2025 sudah teralokasikan untuk mendukung program penanganan banjir di Samarinda ini.

Akan tetapi persoalan sosial dari sterilisasi pemukiman di sempadan sungai harus sudah lebih dulu diselesaikan oleh Pemkot, sehingga barulah yang lain bisa terealisasi dengan baik.

“Program berjalan terus, saat ini kami masih menunggu (Pemkot) Samarinda menyelesaikan masalah sosialnya. Kalau kelar langsung kami kerjakan,” ujar Fitra, di Samarinda, dikutip Selasa (18/2/2025).

Sebagaimana diketahui proses normalisasi terus berjalan. Fitra menjelaskan, saat ini penanganan telah sampai di area di sekitar Jembatan Ruhui Rahayu dan jembatan Gelatik, Temindung Permai, Sungai Pinang. Setelah itu, segmen di Kawasan PM Noor dan Jalan Lambung Mangkurat yang akan mendapat giliran. Dari normalisasi itu nanti akan didapat lebar badan sungai yang makin bertambah, yaitu lebih dari 40 meter.

Perlu diketahui, setiap segmen normalisasi sebenarnya memiliki panjang yang berbeda, yaitu berkisar 200-300 meter.

“Semua sesuai desain. Tinggal memastikan di lapangan enggak ada masalah,” tandasnya.

Diketahui, masyarakat di seputaran Sungai Karang Mumus telah tinggal tetap selama lebih dari 50 tahun.

Namun, kondisi banjir yang kerap terjadi belakangan ini lebih parah daripada sebelumnya.

TERPOPULER

TERKINI