Rabu, September 9, 2026
No menu items!

Disbun Kaltim Nilai Program B50 Jadi Peluang Besar Hilirisasi Sawit

Samarinda, Satu Indonesia – Pemanfaatan energi berbasis sumber daya terbarukan melalui program B50 dinilai menjadi salah satu langkah strategis dalam mendorong sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Hal ini disebabkan B50 merupakan bahan bakar diesel yang menggunakan campuran biodiesel berbahan baku minyak sawit sebesar 50 persen.

Dimana kebijakan tersebut membuka peluang besar bagi komoditas kelapa sawit untuk tidak hanya berperan sebagai penghasil produk perkebunan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam rantai pasok energi terbarukan.

Pengembangan biodiesel berbasis sawit memiliki prospek yang cukup besar. Selain mendukung ketahanan energi, kebijakan tersebut juga berpotensi meningkatkan nilai tambah ekonomi melalui pengembangan hilirisasi komoditas kelapa sawit.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Timur, drh Arief Murdiyatno menilai pemanfaatan sawit sebagai bahan baku biodiesel dapat menjadi peluang bagi daerah untuk mengoptimalkan produktivitas sekaligus memperkuat keberlanjutan sektor perkebunan.

“Kalau sudah berbicara energi, ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Kita melihat jumlah kendaraan yang menggunakan bahan bakar diesel juga cukup besar,” ujarnya belum lama ini di Samarinda.

Menurutnya, penerapan B50 juga dapat menjadi salah satu solusi dalam menghadapi risiko penurunan produksi minyak bumi. Ketika pasokan minyak dunia maupun produksi minyak domestik mengalami penurunan, minyak sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Timur, drh Arief Murdiyatno | Satu Indonesia/Istimewa-HO.

“Kalau produksi minyak kita turun, bisa disubstitusi dengan minyak sawit. Sekarang ini, Alhamdulillah, perkebunan sawit kita mulai tumbuh. Minyak sawit bisa menjadi bagian dari substitusi, sehingga energi kita bisa lebih didukung oleh sumber daya domestik,” tambahnya.

Penerapan B50 sekaligus membuka peluang pasar baru bagi industri kelapa sawit. Selama ini, minyak sawit memiliki pasar utama untuk kebutuhan pangan, termasuk minyak goreng. Dengan berkembangnya kebutuhan biodiesel, permintaan terhadap produk sawit diharapkan semakin luas.

“Marketnya sudah ada. Di samping untuk minyak goreng dan kebutuhan pangan, sekarang ada kebutuhan untuk bahan bakar. Ini tentu sangat prospektif ke depan,” sambung Arief.

Meski demikian, penerapan B50 membutuhkan kesiapan menyeluruh dari berbagai sektor. Hal tersebut mencakup ketersediaan bahan baku, kapasitas industri pengolahan, sistem distribusi, hingga kesiapan penggunaan bahan bakar pada sektor transportasi dan industri. Karena itu, diperlukan sinergi lintas sektor agar pemanfaatan sawit sebagai bahan baku biodiesel dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat optimal bagi daerah maupun masyarakat.

Transisi menuju penggunaan B50 diharapkan tidak hanya memperkuat pemanfaatan sumber energi domestik, tetapi juga meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa sawit melalui pengembangan industri hilir.

Pengembangan energi berbasis sawit juga sejalan dengan upaya mendorong pembangunan rendah karbon dan transisi energi yang lebih hijau. Namun, pengembangannya tetap harus diimbangi dengan tata kelola perkebunan yang baik, peningkatan produktivitas, perlindungan lingkungan, serta keberpihakan terhadap petani sawit.

Redaksi

TERPOPULER

TERKINI

Putaran Bundaran Monyet Ditutup, Dishub Balikpapan Alihkan ke Pos 10

Balikpapan, Satu Indonesia - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Balikpapan menutup akses putar balik kendaraan di Bundaran Monyet, Jalan H. Tjutjup Suparna, Balikpapan Baru, ...