Balikpapan, Satu Indonesia – Pemerintah Kota Balikpapan mendorong masyarakat memanfaatkan lahan kosong di lingkungan permukiman untuk mengembangkan peternakan ayam petelur skala rumahan. Langkah tersebut dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus mendukung program urban farming yang tengah dikembangkan pemerintah daerah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan, Sri Wahjuningsih, mengatakan minat masyarakat terhadap budidaya ayam petelur skala kecil mulai meningkat. Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan program urban farming yang masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Wali Kota Balikpapan periode 2026–2029.
“Urban farming itu tidak hanya bicara soal sayur-mayur, tetapi juga ikan dan ayam petelur. Jadi sangat dimungkinkan dilakukan dalam skala kecil oleh masyarakat,” kata Sri Wahjuningsih, Sabtu (13/6/2026).
Sri menjelaskan, konsep pertanian perkotaan yang dikembangkan Pemkot Balikpapan tidak hanya berfokus pada budidaya tanaman pangan. Sektor peternakan dan perikanan juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan di kawasan perkotaan selama dikelola sesuai kondisi lingkungan.
Menurut dia, masih banyak lahan kosong di kawasan perumahan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, lahan tersebut berpotensi menjadi area produktif yang mampu menghasilkan bahan pangan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi keluarga.
“Daripada lahannya terbengkalai dan hanya ditumbuhi rumput liar, lebih baik dimanfaatkan untuk kegiatan yang menghasilkan dan mendukung kebutuhan pangan keluarga,” ujarnya.
Selain meningkatkan ketersediaan pangan, khususnya sumber protein hewani dari telur, peternakan ayam petelur skala rumahan juga dapat membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga. Bahkan, hasil produksi yang berlebih berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga.
Meski demikian, Sri mengingatkan masyarakat untuk tetap memperhatikan aspek kebersihan dan kenyamanan lingkungan dalam menjalankan usaha peternakan di kawasan permukiman. Pengelolaan kandang dan limbah harus dilakukan dengan baik agar tidak menimbulkan gangguan bagi warga sekitar.
“Karena berada di lingkungan perumahan, kebersihan harus menjadi perhatian utama. Pengelolaan kandang dan limbahnya harus dilakukan dengan baik agar tidak menimbulkan gangguan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sri menilai peternakan ayam petelur dapat menjadi bagian dari sistem urban farming terpadu yang ramah lingkungan. Kotoran ayam dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sementara limbah makanan rumah tangga dapat diolah menjadi maggot yang berfungsi sebagai pakan alternatif untuk ayam maupun ikan.
Menurutnya, integrasi antara sektor peternakan, pertanian, dan perikanan akan menciptakan siklus produksi yang lebih efisien sekaligus mengurangi limbah rumah tangga.
“Kalau dikelola dengan baik, semuanya bisa saling mendukung. Kotoran ayam menjadi pupuk, limbah makanan diolah menjadi maggot, lalu maggot bisa menjadi pakan ikan atau ayam. Ini yang ingin kita dorong dalam konsep urban farming terpadu,” kata Sri.
Melalui pendekatan tersebut, Pemkot Balikpapan berharap masyarakat semakin aktif memanfaatkan ruang yang tersedia di lingkungan tempat tinggal untuk menghasilkan pangan secara mandiri sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah meningkatnya kebutuhan pangan perkotaan.

