Satu Indonesia, Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan melalui Dinas Perhubungan (Dishub) mempercepat penyusunan rencana induk jaringan transportasi bertajuk Balikpapan Connectivity yang menjadi proyek prioritas tahun 2026. Program ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai moda transportasi, termasuk penataan ulang peran angkutan kota (angkot) sebagai layanan pengumpan (feeder).
Kepala Dishub Balikpapan, M Fadli Pathurrahman mengatakan, grand design sistem transportasi tersebut telah disusun dengan mempertimbangkan urgensi dan kebutuhan masyarakat.
“Tahun ini kami fokus pada tahap evaluasi dari perencanaan yang sudah disusun. Semua dirancang sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan transportasi kota,” ujar Fadli.
Melalui sistem Balikpapan Connectivity, masyarakat nantinya dapat mengakses informasi rute perjalanan sebelum beraktivitas, termasuk panduan perpindahan antar moda transportasi yang telah terintegrasi.
Dishub Balikpapan menyiapkan empat segmen transportasi dalam sistem tersebut, yakni transportasi pribadi, transportasi daring, angkutan kota, dan bus umum.
“Kami akan menyiapkan empat segmen transportasi yang saling terhubung. Sistem ini juga akan memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah, khususnya terkait penataan angkutan kota,” kata Fadli.
Dalam skema baru ini, angkutan kota tidak lagi beroperasi secara bebas seperti saat ini, melainkan difungsikan sebagai feeder yang melayani rute pengumpan menuju moda transportasi utama.
Dishub menargetkan dalam satu tahun ke depan, angkutan kota sudah memiliki jalur khusus serta segmentasi penumpang tersendiri.
“Angkutan kota tidak akan bergabung dengan moda lain. Mereka akan difokuskan sebagai feeder dalam sistem transportasi terintegrasi,” jelasnya.
Namun demikian, Fadli menegaskan bahwa tidak semua angkutan kota dapat langsung dilibatkan dalam sistem tersebut. Saat ini, pihaknya masih melakukan proses identifikasi dan verifikasi terhadap kelayakan armada.
Dari total 537 unit angkutan kota yang masih beroperasi, sebagian di antaranya dinilai tidak memenuhi standar kelayakan.
“Kami melihat banyak angkutan kota yang kondisinya sudah tidak layak, bahkan berkarat dan tidak nyaman. Ini akan kami seleksi,” ungkap Fadli.
Menurutnya, hanya kendaraan yang lolos verifikasi dari sisi kelayakan teknis dan kelengkapan administrasi yang akan diizinkan beroperasi sebagai feeder.
“Kami akan pastikan hanya angkutan kota yang memenuhi standar yang bisa masuk dalam sistem ini,” tegasnya.
Dishub Balikpapan berharap implementasi Balikpapan Connectivity dapat meningkatkan kualitas layanan transportasi publik sekaligus mendorong integrasi moda yang lebih efisien dan nyaman bagi masyarakat.

