Selasa, Oktober 20, 2026
No menu items!

Ajudan Gubernur Kaltim Diduga Intimidasi Mahasiswa, Propam Siapkan Pemeriksaan

Balikpapan, Satu Indonesia — Dugaan intimidasi terhadap mahasiswa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda yang melibatkan seorang anggota Brimob Polda Kalimantan Timur (Kaltim) berinisial ART mendapat perhatian dari jajaran Polda Kaltim.

ART diketahui bertugas sebagai ajudan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. Polda Kaltim kini berkoordinasi dengan kesatuan asal anggota tersebut dan Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) untuk menindaklanjuti dugaan tindakan yang terjadi seusai aksi demonstrasi mahasiswa terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Senin (19/10/2026).

Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Tedy Sopandi mengatakan, pemeriksaan terhadap ART akan menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya.

“Kami sedang berkoordinasi dengan kesatuannya dan Bidang Propam. Setelah itu, persoalan ini akan kami tindak lanjuti,” ujar Tedy di Mapolda Kaltim, Selasa (20/10/2026) pagi.

Menurut Tedy, setiap anggota Polri wajib menjaga sikap dalam menjalankan tugas dan tidak menggunakan kewenangan secara berlebihan.

Ia menegaskan, tindakan anggota kepolisian harus tetap mengacu pada arahan pimpinan Polri yang menekankan pentingnya kehadiran polisi bersama masyarakat.

“Polisi tidak boleh arogan, tidak boleh berbohong, dan harus menjunjung tinggi keadilan,” kata Tedy.

Mengenai kemungkinan sanksi, Tedy menyebut keputusan belum dapat ditentukan sebelum proses pemeriksaan oleh kesatuan ART selesai.

Salah satu kemungkinan yang dapat dilakukan, kata dia, ialah menarik ART kembali ke satuan asalnya.

“Kita tunggu pemeriksaan dari kesatuannya. Bisa saja yang bersangkutan ditarik kembali. Yang jelas, tindakan itu bertentangan dengan arahan Bapak Kapolri,” ujarnya.

Dugaan intimidasi tersebut terjadi di sekitar Masjid Nurul Mu’minin, lingkungan Kantor Gubernur Kaltim, seusai mahasiswa GMNI Samarinda menggelar demonstrasi mengenai penanganan karhutla.

Aksi berakhir sekitar pukul 18.00 Wita. Para mahasiswa kemudian kembali ke titik kumpul dan menunggu waktu salat Magrib sebelum meninggalkan lokasi.

Kader GMNI Samarinda Rossa Tri Rahmawati mengatakan, suasana berubah ketika Rudy Mas’ud tiba di masjid bersama dua ajudannya.

Rossa mengaku saat itu dirinya merekam kedatangan gubernur menggunakan telepon genggam. Ia menyebut tidak ada mahasiswa yang berupaya menghalangi Rudy menuju masjid.

Menurut Rossa, dirinya sempat menanyakan alasan gubernur tidak menemui massa ketika aksi berlangsung. Ia mengatakan pertanyaan tersebut disampaikan secara spontan.

“Saya hanya spontan bertanya kenapa tadi tidak menemui massa aksi. Malah beliau yang menghampiri kami untuk menjawab,” kata Rossa.

Rossa kemudian mengaku telepon genggam yang digunakannya untuk merekam mendapat perlakuan dari salah seorang ajudan setelah Rudy melewatinya.

Ia membantah menggunakan telepon genggam secara agresif terhadap gubernur.

“Padahal saya tidak menyentuh apa pun, bahkan tidak menodong-nodongkan HP ke Rudy Mas’ud,” ujarnya.

Kader GMNI lainnya, Ridwan, juga mengaku mengalami kontak fisik dengan salah seorang ajudan gubernur.

Menurut Ridwan, ajudan tersebut mendatanginya dari jarak tertentu sebelum terjadi kontak fisik.

“Dia menghampiri saya, tiba-tiba langsung mem-body,” kata Ridwan.

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud terkait dugaan tindakan yang dilakukan ajudannya tersebut.

Sementara itu, Polda Kaltim memastikan persoalan tersebut masih dalam proses penanganan internal. Hasil pemeriksaan nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah terhadap ART.

TERPOPULER

TERKINI