Rabu, Agustus 12, 2026
No menu items!

Festival Rindu Dumaring Edukasi Tradisi Leluhur dengan Pesan Pelestarian Alam Berau

Tanjung Redeb, Satu Indonesia – Festival Rindu Dumaring (FRD) kembali hadir memberikan semangat dalam pelestarian budaya sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

Festival yang digelar di Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan sejak 8 Agustus hingga 5 September 2026 ini menjadikan masyarakat adat sebagai bagian utama dalam setiap rangkaian kegiatannya.

Bukan sekadar agenda hiburan, FRD tahun ini dikemas dalam ruang guna memperkenalkan sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya Suku Dayak Dumaring. Nilai-nilai yang diwariskan leluhur dikemas melalui pertunjukan seni, permainan tradisional, keterampilan masyarakat hingga aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, menjelaskan bahwa penyelenggaraan FRD diarahkan untuk memperkuat posisi budaya lokal sebagai bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus potensi pariwisata daerah.

Menurutnya, festival tersebut mengangkat konsep budaya berbasis masyarakat adat dengan tema “Menyulam Rindu, Menyemai Warisan”. Tema ini memberikan gambaran bagaimana upaya masyarakat dalam menjaga ingatan terhadap tradisi sekaligus meneruskannya kepada generasi berikutnya.

“Festival ini kami dorong menjadi ruang bagi masyarakat Dumaring untuk kembali mengenali dan merawat peninggalan leluhur, baik berupa seni, tradisi, pengetahuan maupun nilai-nilai kehidupan yang masih relevan hingga sekarang,” ujar Yudha.

Dirinya menjelaskan bahwa kekuatan FRD juga terletak pada keterkaitannya dengan lingkungan. Kehidupan masyarakat Dumaring tidak dapat dilepaskan dari keberadaan hutan, sungai, air, tumbuhan maupun satwa yang berada di sekitarnya.

Karena itu, pesan konservasi menjadi salah satu bagian penting dalam festival. Masyarakat diajak melihat bahwa menjaga alam bukan hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga merupakan upaya mempertahankan ruang hidup dan warisan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

“Budaya dan alam di Dumaring memiliki hubungan yang kuat. Melalui festival ini, keduanya ingin kami tampilkan secara bersamaan agar masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga tradisi sekaligus lingkungan,” lanjutnya.

Lebih lanjut, dalam kemeriahan FRD beragam kegiatan. Selain pertunjukan seni dan budaya, festival juga menghadirkan lomba permainan tradisional, kegiatan pembelajaran keterampilan tradisional, perlombaan karya seni serta fotografi dan videografi.

Seluruh kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan destinasi wisata Taman Sungai Dumaring. Pemilihan lokasi ini sekaligus memperkuat konsep FRD yang ingin mempertemukan kebudayaan dengan potensi wisata berbasis lingkungan.

Puncak festival dijadwalkan berlangsung pada 5 September mendatang melalui kirab budaya dan sejumlah kegiatan lainnya. Agenda tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperlihatkan kekayaan budaya Dumaring kepada masyarakat luas.

Ia menambahkan, FRD juga diharapkan mampu menjadi ruang interaksi lintas generasi, etnis dan agama. Dengan demikian, festival tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi dapat berkembang sebagai wadah untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas budaya lokal.

“Yang ingin dibangun bukan hanya kemeriahan festival, tetapi bagaimana masyarakat terus memiliki kepedulian terhadap warisan budaya, lingkungan dan hubungan sosial. Semuanya menjadi bagian dari identitas Dumaring,” tukasnya.

(MH/HL)

TERPOPULER

TERKINI

Kembali ke Sekolah, Syarifah Suraidah Kenang Masa Kecil di SDN 001 Penajam

Suasana hangat terlihat di SDN 001 Penajam, Kecematan Penajam, Kabupaten penajam, Paser Utara, Pada Jumat (7/8/2026). Kedatangan Istri Gubernur Kalimantan Timur sekaligus ketua Tim...