Satu Indonesia, Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) merencanakan rehabilitasi besar-besaran lahan persawahan di kawasan Teritip mulai tahun depan. Program ini difokuskan untuk mengoptimalkan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Kepala DKP3 Balikpapan, Sri Wahjuningsih mengungkapkan, total luas KP2B di wilayah tersebut mencapai 98 hektare. Namun, dari jumlah tersebut, hanya sekitar 40 hektare yang saat ini telah siap digunakan sebagai lahan sawah produktif.
“Masih ada sekitar 58 hektare yang kondisinya berupa vegetasi berat. Lahan ini akan kami bersihkan secara bertahap agar bisa difungsikan sebagai area pertanian,” kata Sri Wahjuningsih, Selasa (24/3/2026).
Menurut dia, langkah rehabilitasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan, mengingat ketergantungan Balikpapan terhadap pasokan dari luar daerah masih sangat tinggi.
Ia menyebutkan, saat ini produksi beras lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Bahkan, untuk komoditas beras, ketergantungan terhadap pasokan luar daerah mencapai 100 persen.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa hasil panen yang ada masih terbatas, umumnya hanya cukup untuk konsumsi petani sendiri,” ujarnya.
Sri menambahkan, hasil produksi petani yang tersedia saat ini sebagian juga diserap oleh Perum Bulog untuk memperkuat cadangan beras pemerintah. Harga pembelian gabah kering panen (GKP) yang mencapai Rp6.500 per kilogram dinilai cukup menguntungkan bagi petani.
“Petani merasa terbantu karena hasil panen mereka bisa langsung dibeli oleh Bulog dengan harga yang baik,” katanya.
Selain fokus pada pembenahan lahan, DKP3 juga menjalankan program penguatan kapasitas petani melalui pembinaan kelembagaan. Pendampingan dilakukan oleh penyuluh pertanian guna meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola usaha tani secara lebih efektif.
“Melalui pendampingan ini, petani yang sebelumnya memiliki keterbatasan dalam tata kelola pertanian, perlahan menjadi lebih mandiri dan सक्षम dalam meningkatkan produktivitas,” ujar Sri.
Pemerintah berharap, dengan optimalisasi lahan dan peningkatan kapasitas petani, produksi pangan di Balikpapan dapat meningkat secara bertahap dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.

