Rabu, Mei 6, 2026
No menu items!

Otorita IKN dan BRIN Kolaborasi Susun Kajian Toponimi dan Sistem Peringatan Dini Sosial

Nusantara, Satu Indonesia – Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam penyusunan kajian penamaan rupa bumi (toponimi) dan pengembangan Social Early Warning System (SEWS) di kawasan Nusantara.

Pertemuan kedua lembaga tersebut berlangsung di Kantor Balai Kota Otorita IKN, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara, Rabu (15/10/2025). Kolaborasi ini menjadi langkah awal untuk mewujudkan penataan identitas geografis sekaligus sistem deteksi potensi konflik sosial di wilayah IKN.

Kegiatan dihadiri tujuh peneliti BRIN lintas bidang keilmuan. Dalam paparannya, BRIN memaparkan rencana dua tahap pelaksanaan kerja sama, mencakup riset lapangan dan penyusunan peta toponimi berdasarkan titik lokasi di kawasan Nusantara.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyebut kerja sama ini merupakan langkah strategis memperkuat fondasi tata ruang dan sosial menuju Ibu Kota Politik pada tahun 2028.

“Toponimi ini akan sangat diperlukan. Kami siap berkontribusi dengan apa saja yang BRIN butuhkan, dengan catatan kajian ini harus bisa dimanfaatkan secara nyata. Tidak hanya nama jalan saja, tetapi setiap kawasan Nusantara harus kita beri identitas,” ujar Basuki.

Basuki menargetkan hasil kajian toponimi dapat diselesaikan sebelum akhir tahun 2027.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Prof. Dr. M. Rokhis Khomarudin, menjelaskan bahwa kajian tidak hanya berfokus pada penamaan geografis, tetapi juga penguatan nilai sosial dan budaya dalam setiap unsur tata kota.

“Kami perlu mendalami beberapa alternatif yang nanti akan kami usulkan, termasuk penamaan yang futuristik dan juga terkait tidak hanya warga lokal saja, tetapi juga mendapatkan masukan dari para pendatang yang ada di kawasan IKN ini,” jelas Rokhis.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan BRIN juga meninjau sejumlah infrastruktur penting seperti embung-embung, Bendungan Sepaku Semoi, dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sanggai. Kunjungan ini bertujuan memetakan lokasi penamaan sekaligus memastikan kesiapan infrastruktur dasar di IKN.

Rokhis menambahkan, riset sumber daya air yang sebelumnya dilakukan BRIN masih berbasis citra satelit, sehingga diperlukan observasi langsung di lapangan untuk meningkatkan akurasi data.

“Terkait hasil riset sebelumnya mengenai sumber daya air, sejauh ini informasinya masih berdasarkan citra satelit dan belum melalui kegiatan lapangan. Dengan kata lain, riset itu masih awal, maka kami perlu konfirmasi lebih dulu. Maka, dengan adanya tambahan data yang dilakukan BRIN di IKN ini akan memperkuat hasil riset sebelumnya.”

Ia juga menegaskan pentingnya validitas data dalam penelitian.

“Jadi, prinsipnya garbage in, garbage out, artinya kalau kita melakukan sebuah riset, apabila data risetnya sampah, hasilnya juga akan sampah. Karena itu, dengan hadirnya para periset tersebut langsung ke lapangan, harapannya dapat melihat bagaimana kondisi existing (sebenarnya) yang ada di IKN. Alhasil, kita akan mendapatkan data yang baik dengan hasil riset yang memiliki kualitas.”

Rokhis turut mengapresiasi keberfungsian embung-embung di IKN yang mendukung ekonomi hijau dan ketahanan air kawasan.

“Danau ini menjadi penting bagi ekonomi hijau, yang mana di sekelilingnya ternyata sudah ditanami oleh tanaman kopi liberika. Terlebih lagi, saya mendengar sudah ada 54 embung yang dibangun di IKN, yang nantinya juga akan memenuhi kebutuhan air baku bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara,” ungkap Rokhis.

Pertemuan ini menjadi awal sinergi strategis antara Otorita IKN dan BRIN dalam menghadirkan basis data ilmiah yang kuat bagi pembangunan Nusantara, tidak hanya sebagai kota pemerintahan, tetapi juga sebagai pusat riset, inovasi, dan peradaban baru Indonesia.

TERPOPULER

TERKINI