Jumat, Juni 5, 2026
No menu items!

Bukan Sekedar Ritual Ketuhanan, Menag Tegaskan Agama untuk Kemanusiaan

Jakarta, Satu Indonesia – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan soal fungsi utama agama. Menurutnya, fungsi agama untuk kemanusiaan dan bukan sekadar ritual yang menegaskan ketuhanan.

Dalam keynote speech Indonesian Humanitarian Dialogue 2025 di Jakarta pada Rabu (24/9/2025), Menang menyampaikan pesan bahwa agama hadir untuk menumbuhkan cinta kasih dan menjinakkan sifat liar manusia, sehingga tidak boleh dipersempit maknanya menjadi sumber konflik.

“Agama itu untuk manusia, bukan untuk Tuhan. Tuhan tidak akan bertambah ketuhanan-Nya meski semua manusia beribadah, dan tidak akan berkurang jika manusia berhenti beribadah. Jadi, untuk apa kita beragama? Untuk manusia itu sendiri, untuk kepentingan kemanusiaan,” tegas Menag di acara yang turut dihadiri Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno.

Nasaruddin menilai, implementasi ajaran agama sering kali melenceng dari tujuan aslinya. Tidak jarang agama justru dijadikan legitimasi kekerasan, padahal hakikat agama adalah keindahan dan kasih sayang.

“Kalau ada yang mengajarkan agama tapi mengedepankan kebencian, itu bukan agama. Agama hadir untuk cinta kasih, bukan konflik atau permusuhan,” tambahnya.

Menag juga mengajak umat beragama melakukan transformasi dari teologi maskulin yang keras ke teologi feminin yang penuh kasih sayang. Dengan begitu, agama dapat berfungsi sebagai peredam konflik, bukan pemicu kekerasan.

“Agama harus menjinakkan jiwa yang liar dan meredam keganasan maskulinitas yang sering menjadi sumber konflik. Jangan sampai agama dipakai memperkuat maskulinitas yang keras, karena itu bertentangan dengan esensinya,” ujar Imam Besar Masjid Istiqlal ini.

Lebih lanjut Menag juga mengingatkan bahwa peran agama tidak boleh sekadar menjadi “pemadam kebakaran” saat konflik pecah. Namun, sambung Menag, agama perlu hadir di hulu, ikut merumuskan sistem dan solusi agar masalah sosial bisa dicegah sejak awal. Bahkan, selama ini agama hanya diminta menyelesaikan akibat, padahal sebabnya tidak disentuh.

“Kita perlu membaca ulang kitab suci agar kerangka besar kemanusiaan benar-benar hadir. Agama harus ikut mencegah masalah, bukan sekadar menyelesaikan setelah muncul,” tukasnya.

Redaksi

TERPOPULER

TERKINI