satuindonesia.co.id, Balikpapan – Beberapa hari mendatang akan mendapati hari Asyura. Hari tersebut merupakan salah satu hari yang sangat penting dan bersejarah dalam Islam, karena pada hari ini terjadi banyak peristiwa besar yang memiliki makna mendalam.
Peristiwa besar yang diabadikan dalam sejarah umat Islam pada hari Asyura diantaranya yaitu berlabuhnya perahu Nabi Nuh dengan selamat di bukit Judiy.
Lalu, Nabi Musa diselamatkan Allah SWT dari kejaran Raja Fir’aun beserta bala tentaranya.
Hari Asyura yang atuh pada tanggal 10 Muharram, membuat bulan Muharram semakin istimewa dan penuh keberkahan bagi umat Islam.
Pada hari Asyura, umat Islam disunahkan untuk menjalankan puasa sebagai bentuk ibadah dan mencari keridhoan Allah SWT.
Puasa Terbaik Setelah Bulan Ramadhan
Puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram memiliki keutamaan yang besar di sisi Allah SWT.
Selain puasa Asyura, umat Islam juga dianjurkan untuk melaksanakan puasa Tasu’a, yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Muharram..
Dengan menjalankan kedua puasa ini, umat Islam diharapkan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meraih keberkahan yang lebih besar.
Dalam Islam, ada waktu-waktu tertentu yang sangat dianjurkan untuk menjalani ibadah puasa, salah satunya adalah pada bulan Muharram.
Rasulullah SAW telah menegaskan dalam sabdanya bahwa puasa di bulan Muharram adalah ibadah puasa yang paling utama setelah puasa di bulan Ramadhan.
Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis yang sahih oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah (Muharram), dan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163).
Seperti dijelaskan dalam kitab Fiqh as-Sunnah karya Sayyid Sabiq yang diterjemahkan Khairul Amru Harahap dan Masrukhin, menurut riwayat Aisyah RA, hari Asyura adalah hari puasa orang-orang Quraisy pada masa jahiliah. Rasulullah SAW juga berpuasa pada hari itu.
Setibanya di Madinah, Rasulullah SAW tetap berpuasa pada hari Asyura dan menyuruh orang-orang untuk berpuasa pada hari itu. Begitu turun kewajiban puasa Ramadan, puasa Asyura boleh dikerjakan atau ditinggalkan. Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
Artinya: “Siapa yang menghendaki, dia boleh berpuasa, dan siapa yang menghendaki, dia boleh meninggalkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Ibnu Abbas RA juga dijelaskan, ketika datang ke Madinah, Rasulullah SAW melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Orang-orang Yahudi menjawab, “Hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan bani Israil dari musuh mereka. Karena itu, Musa berpuasa pada hari ini.”
Setelah itu, Rasulullah SAW bersabda, “Aku lebih berhak untuk (mengikuti) Musa daripada kalian.” Kemudian, beliau melakukan puasa Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk mengerjakannya.
Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih Bukhari kitab ash-Shaum, Muslim dalam Shahih Muslim kitab ash-Shiyam, dan Ibnu Majah dalam Sunan Ibni Majah kitab ash-Shiyam.
Dari sabda ini menunjukkan bahwa puasa di bulan Muharram memiliki keutamaan yang sangat besar, setara dengan keutamaan salat malam setelah salat wajib.
Puasa Asyura dilaksanakan setiap 10 Muharram. Tahun ini, pemerintah menetapkan 1 Muharram 1446 H jatuh pada Minggu, 7 Juli 2024.
Dengan demikian, 10 Muharram atau jadwal puasa Asyura dilakukan pada Selasa, 16 Juli 2024.
Masih mengacu kitab Fiqh as-Sunnah Sayyid Sabiq, para ulama membagi pelaksanaan puasa Asyura dalam tiga tingkatan. Tingkatan pertama, puasa Asyura dilakukan selama tiga hari, yakni tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.
Tingkatan kedua, puasa dilakukan tanggal 9 dan 10 Muharram dan tingkatan ketiga puasa Asyura dilakukan tanggal 10 Muharram saja.
Dengan demikian, puasa Asyura boleh dilakukan 3 hari, 2 hari, atau sehari saja tepat pada 10 Muharram.
Adapun yang lebih utama dalam hal ini adalah mengiringi puasa Asyura dengan berpuasa sehari sebelum atau setelahnya. Hal ini dilakukan untuk membedakan dengan puasanya umat terdahulu.
Merujuk pada pembagian tingkatan puasa Asyura oleh para ulama, maka umat Islam boleh melakukan puasa Asyura tanggal 10 dan 11 Muharram.
Keistimewaan Puasa Asyura
Puasa Asyura memiliki keistimewaan dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu. Keutamaan ini bersandar pada sebuah hadits yang dikeluarkan Imam Muslim dalam Shahih-nya sebagaimana dihimpun Imam an-Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin.
وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Artinya: “Dari Abu Qatadah RA, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Asyura. Beliau menjawab, ‘Puasa tersebut dapat melebur dosa setahun yang lalu’.” (HR Muslim)
Pensyarah kitab Riyadhus Shalihin, Musthafa Dib al-Bugha dkk mengatakan hadits tersebut menjelaskan keutamaan puasa hari Asyura.
Niat Puasa Asyura
Untuk melaksanakan puasa Asyura, diawali dengan berniat pada malam harinya. Berikut bacaan niat puasa Asyura.
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu souma ghadin ‘an ada’i sunnatil âsyurâ lillâhi ta’âlâ.
Redaksi

